1.0 'Bertemu'
-Saya tak peduli anda siapa. Yang saya pedulikan adalah kehidupan saya sekarang.-
•••♥•••
Dalam gelapnya malam dan cahaya kamar yang hanya remang-remang, aku duduk memeluk lutut di pojok ranjang. Temenung aku dengan pandangan kosong ke arah lantai marmer yang dingin. Meringkuk takut, padahal tak ada apa-apa di sini. Kamarku tak lagi terlihat seperti kamar, ketika semua barang-barang sudah berhamburan ke penjuru ruangan. Beberapa buku di atas meja belajar ku sudah berhamburan entah ke mana, alat kosmetiku tak lagi berbentuk, dan puluhan foto bersama figura yang semua kuletakkan secara rapi telah pecah rusak terkoyak, yang lebih menarik adalah kaca riasku sudah pecah berkeping-keping.
Perlahan tapi pasti memori lama itu menyeruak ke dalam fikiranku, menghantam kepala bertubi-tubi. Memaksa otak mengali kenangan yang ingin sekali kulupakan. Seandainya Tuhan mengizinkanku mengalami amnesia, aku akan dengan senang hati menerima. Aku berkali-kali kehilangan kendali diri. Berkali-kali bertempur dengan jiwa yang lainnya.
Ini semua karena siang tadi. Pertemuanku dengan Banyu, mengacaukan segala rutinitasku. Aku benci mengakui bahwa aku tak bisa lari dari kenyataan. Aku benci mengakui bahwa aku tak bisa menghindar. Sejauh apa pun aku pergi, dia akan menemukanku nanti. Karena Banyu, janjiku dengan Ara harus batal begitu saja.
Diri ini tak bisa terkendali. Setelah sekian lama aku ingin menutupi jiwa yang tidak kusuka. Setelah kuyakinin dia tak akan kembali menguasaiku, tapi ia muncul perlahan dalam sekejap mata, seolah memperlihatkan bahwa aku harus percaya bahwa dia tak pergi begitu saja.
Dia jiwaku yang lainnya, membenci Banyu Angkasa. Melebihi jiwaku sendiri yang takkan lagi suka kepada Banyu. Berapa kali lagi harus kukata? Bahwa aku yang kedua tak akan bisa digapai dan dimengerti begitu mudah.
Kekosongan jiwaku, oleh aku atas aku yang lainnya menggerakkan tanganku meraih serpihan pecahan kaca terdekat, bersiap mengoreskannya ke lengan sendiri. Membunuh urat nadi agar segera bertemu Sang Illahi.
Aku sudah tak punya fikiran, yang kupercaya hanya kematian. Aku benci hidup ini. Inginkan kembali tapi tak memungkinkan lagi. Perlahan serpihan kaca itu mengores lenganku. Lantai marmer putih, ternodai oleh merah-merah cairan darahku sendiri. Hingga, kegiatanku harus terhenti oleh samparan sebuah tangan ke lenganku.
Dia Dave, penyelamat hidupku.
Aku tak tahu sejak kapan dia ada di sini. Di apartementku. Kami memang berbagi kode apartement, karena aku tahu dia takkan macam-macam kepadaku. Lagi pula aku membutuhkannya, sejak aku jadi pendatang baru di kota ini.
Samparan tangan itu menggagetkanku. Menyadarkan diri ini akan hal gila yang baru saja terjadi. Aku menangis tersedu-sedu, mengingat kelakuan hina diriku.
"Kenapa kamu lepas kendali Run?" Tanya Dave sendu, "Aku sudah bilang, jangan berfikir sendiri. Ada aku di sini," lanjutnya, "Aku tak pernah menyukai kamu yang seperti ini. Yang hilang kendali jika hanya melihat masa lalu. Kamu Run, kamu berlari, dan aku Dave aku yang menerimamu, aku yang mendapatkanmu. Jangan berhenti Run, terus berlari, tinggal sebentar lagi."
Aku menggeleng kuat, "Aku, aku tak percaya dia akan menemukanku di sini. Aku berusaha lari, tapi kenapa dia menemukanku saat aku sudah siap memulai kisah baru?"
"Sudah. Ayo berdiri, ke ruang tv, kita bersihkan lukamu dulu."
"Thank Dave," cicitku.
Aku melangkah menuju ruang tv dengan bertumpu pada Dave yang melindungiku dengan menggenggam tangan kananku. Setibanya di ruang tv, Dave dengan cekatan mendudukanku di sebuah sofa, dan dia berlari menuju dapur untuk mencari kotak P3K. Kemudian membalur lukaku, dengan hati-hati.
"Kamu tinggal di rumahku saja. Mom sudah merindukanmu," ucap Dave ketika kegiatannya selesai.
"Lalu kamu?" Tanyaku menatapnya.
"Aku juga akan pulang Run. Aku akan menemanimu."
Sebagai jawaban, aku hanya mengangguk mengiyakan. Karena sesungguhnya aku juga sudah merindukan dekapan hangat dan coklat dingin buatan mom. Jangan bingung perihal hubunganku dengan Dave, kalian akan mengetahuinya nanti.
"Ana?" Tanyaku kepada Dave.
"Tenang dia tak apa, setelah kamu membatalkan janji, dia langsung menghubungiku, dan aku sudah menelfon Welyan untuk mengajaknya pergi hari ini."
"Apa Welyan serius dengan Ana?"
"Hey Run!" Dave menatapku tersenyum geli, "Sejak kapan keluargaku dididik untuk memainkan hati wanita? Kalian itu berlian yang harus dijaga, ditinggal sebentar saat frustasi saja kamu mau bunuh diri, apalagi kalau kamu disakiti, mati kali," lanjutnya bercanda sambil tertawa geli.
Aku tersenyum lembut mengiyakan, "Aku tak akan meragukan Welyan untuk Ara."
"Sudah, ayo pulang. Saat ini mom dan dad pasti sedang bersiap makan malam," ajak Dave sembari berdiri.
"Sekarang?" Tanyaku antara bingung dan tak yakin, dan Dave hanya mengganggukkan kepalanya mengiyakan, "Bagaimana dengan baju-bajuku? Apartementku dan apartementmu?"
"Tenang saja, di rumahkan bajumu sudah banyak, kalau kurang nanti kita beli, lagipula nanti malam Ara akan akan menginap di rumah," sahut Dave tenang mengusap puncak kepalaku yang hanya sebatas lehernya.
"Baiklah kalau begitu, tuan pemaksa."
Dan kami tertawa geli setelahnya, sembari melangkah menuju lobi.
•••♥•••
Di sini kami sekarang, di sebuah pusat perbelanjaan sekaligus cafeteria disebuah mall terbesar di kota ini. Aku dan Dave, tengah membawa 2 paper bag. 1 untuk aku dan satu untuk Dave. Kami sudah selesai berbelanja, bersiap untuk melaju menuju rumah mom. Namun, aku melihat pemandangan disebuah sudut cafeteria di mall ini. Meja di ujung itu, memperlihatkan seseorang yang sepertinya ku kenal.
"Dave, bisa kita ke cafeteria sebentar?" Tanyaku memandang Dave.
"Ayo, kebetulan aku juga sudah lapar, tak bisa menahan sampai rumah, hehehe," cengir Dave tak berdosa.
Aku tersenyum maklum, kami melangkah menuju cafeteria. Beruntung Dave memilih tempat yang memungkinkan aku untuk melihat siapa orang yang ingin kupastikan keberadaanya tadi. Ketika Dave sudah menyebutkan menu makanan ringan ke pelayan cafeteria, aku memilih menggajaknya berbicara. Bukan apa, karena entah timbul dari mana, ketika aku bersama Dave, Ana, Welyan, Mom atau Dad, aku terbiasa tidak memegang benda elektronik, begitupun mereka. Karena kami berusaha menghargai satu sama lainnya.
"Dave kami lihat orang di samping kita? Meja nomer 3 dari sini," ucapku lirih.
Dave pun menengoknya, "Iya, ada apa dengan mereka?"
Belum aku jawab pun, Dave sudah kembali melontarkan kata, "Bukanya itu Banyu? Sedang apa dia di sini?" Tanya Dave lagi.
"Bukan masalah sedang apa dia di sini Dave. Tapi, dengan siapa dia di sini," sahutku gemetar.
"Oh My God, bukankah dia orangtuamu Run? Kenapa mereka ada di sini?" Ucap Dave terkaget.
"I don't know Dave,"
"It's okey baby. You are strong woman," ucap Dave lembut ke arahku, saat menyadari aku ketakutan akan kehadiran mereka.
Kebetulan yang menyenangkan pelayan telah kembali membawa makanan dan minuman kami, di situ Dave sekalian membayar bill setelah ia memintanya kepada pelayan. Kami beranjak pergi meninggalkan cafeteria, membawa makanan yang dibungkus, sebab di cafeteria itu, makanan yang dipesan akan dibungkus untuk memudahkan para pembeli jika sedang terburu-buru.
Dave membawa 1 paper bag belanjaannya dan 1 paper bag berisi makanan kami, sedangkan aku hanya membawa 1 paper bag milikku sendiri. Kami masih dalam perjalanan keluar cafeteria, dengan posisi bergandengan tangan.
Hingga sebuah suara menghentikan langkah kaki kami saat ini.
"Keyra!"
"Arunika Keyra!" Lagi, teriakan itu mengundang beberapa pasang mata pengunjung. Tapi, aku dan Dave seolah tak peduli dan masih melangkah pergi.
"Arunika Keyra Titania Wulan!" Lantang, teriakan itu mengucapkan namaku dengan lantang, "Ke sini kamu!"
Deg, nama itu. Nama yang membuatku membenci diriku sendiri.
Genggaman tangan Dave semakin menguat, saat aku benar-benar merasa ketakutan sekarang. Hanya Dave yang aku punya saat ini. Dengan sedikit keberanian yang disalurkan Dave, aku menenggok bersamaan dengan Dave. Sekedar membalikkan badan tanpa berminat untuk melangkah ulang. Biarlah mereka yang berjuang dan aku yang meninggalkan.
Aku mendongak, menatap matanya menantang. Biarlah, aku tak lagi peduli, siapa dia siapa aku saat ini, "Siapa yang anda panggil?" Tanyaku.
"Jangan lancang ya kamu!" Teriak ayahku, menunjukku sembari melangkah.
"Siapa yang anda panggil?" Tanya Dave.
"Kamu siapa?" Tanya ibuku kepada Dave.
"Dia Dave, teman Key, tan," sahut Banyu angkat bicara.
"Saya tidak peduli kamu siapa," ucap ayah menunjuk Dave, "Yang saya perlukan saat ini adalah membawa Keyra pulang," lanjutnya, menatap ke arahku.
"Maaf? Bisa anda ulangi Sir?" Tanyaku.
"Pulang Key, ayah tidak pernah mengajarimu menjadi anak durhaka!"
"Maaf tuan, rumah saya di sini," sahutku lantang.
"Key," bujuk ibuku dan Banyu hampir bersamaan.
"Maaf tuan dan nyonya, tapi saya harus membawa Run pulang, kami sudah ditunggu," sela Dave ketika ayah ingin berbicara kembali.
"Key anak saya, dia akan pulang dengan saya!" Teriak ayah bersikeras.
"Maaf tuan, tapi saya harus segera pulang bersama Dave. Mom dan dad serta yang lainnya, menanti kami di rumah," tandasku.
"Key, jangan bercanda, kami orangtuamu," ucap ibu.
"Maaf, mungkin kalian salah orang. Saya Arunika Keyra Arnawama, bukan Arunika Keyra Titania Wulan seperti yang anda kira," sahutku berusaha tenang, "Saya permisi."
Setelah mengatakan itu, aku bersama Dave bersiap melangkah pergi.
"Tunggu Key, sejak kapan margamu berganti?" Tanya Banyu berusaha menghentikanku.
"Sejak," Dave menggantungkan kalimatnya,
"Sejak aku menerima tawaran untuk menjadi tunangannya," lanjutku, sebab aku tahu Dave sedang menahan tawanya saat ini, seperti aku yang tengah menahan senyum meremehkan milikku ketika melihat wajah pias mereka semua.
"Bukankah tadi siang Dave berkata kalian hanya teman?" Tanya Banyu penasaran.
"Perkenalkan, dia adalah Dave Bagasraka Arnawama, putra dari Bapak Panji Putra Arnawama dan Ibu Ferrdanna Gilbert Arnawama, serta memiliki adik bernama Welyan Bagasraka Arnawama, kami teman dalam ikatan pertunangan," kataku memperjelas.
Setelahnya aku dan Dave benar-benar pergi meninggalkan mereka semua. Melaju pulang menuju ke rumah di mana mom dan dad, serta Ara dan Welyan sudah menunggu kami tiba. Meninggalkan mereka, dengan rasa keterkejutan yang luar biasa.
#bianglalahijrah
#writingchallenge30hrdc
#onedayonepost30hrdc
#30hariramadandalamcerita
"Dave, bisa kita ke cafeteria sebentar?" Tanyaku memandang Dave.
"Ayo, kebetulan aku juga sudah lapar, tak bisa menahan sampai rumah, hehehe," cengir Dave tak berdosa.
Aku tersenyum maklum, kami melangkah menuju cafeteria. Beruntung Dave memilih tempat yang memungkinkan aku untuk melihat siapa orang yang ingin kupastikan keberadaanya tadi. Ketika Dave sudah menyebutkan menu makanan ringan ke pelayan cafeteria, aku memilih menggajaknya berbicara. Bukan apa, karena entah timbul dari mana, ketika aku bersama Dave, Ana, Welyan, Mom atau Dad, aku terbiasa tidak memegang benda elektronik, begitupun mereka. Karena kami berusaha menghargai satu sama lainnya.
"Dave kami lihat orang di samping kita? Meja nomer 3 dari sini," ucapku lirih.
Dave pun menengoknya, "Iya, ada apa dengan mereka?"
Belum aku jawab pun, Dave sudah kembali melontarkan kata, "Bukanya itu Banyu? Sedang apa dia di sini?" Tanya Dave lagi.
"Bukan masalah sedang apa dia di sini Dave. Tapi, dengan siapa dia di sini," sahutku gemetar.
"Oh My God, bukankah dia orangtuamu Run? Kenapa mereka ada di sini?" Ucap Dave terkaget.
"I don't know Dave,"
"It's okey baby. You are strong woman," ucap Dave lembut ke arahku, saat menyadari aku ketakutan akan kehadiran mereka.
Kebetulan yang menyenangkan pelayan telah kembali membawa makanan dan minuman kami, di situ Dave sekalian membayar bill setelah ia memintanya kepada pelayan. Kami beranjak pergi meninggalkan cafeteria, membawa makanan yang dibungkus, sebab di cafeteria itu, makanan yang dipesan akan dibungkus untuk memudahkan para pembeli jika sedang terburu-buru.
Dave membawa 1 paper bag belanjaannya dan 1 paper bag berisi makanan kami, sedangkan aku hanya membawa 1 paper bag milikku sendiri. Kami masih dalam perjalanan keluar cafeteria, dengan posisi bergandengan tangan.
Hingga sebuah suara menghentikan langkah kaki kami saat ini.
"Keyra!"
"Arunika Keyra!" Lagi, teriakan itu mengundang beberapa pasang mata pengunjung. Tapi, aku dan Dave seolah tak peduli dan masih melangkah pergi.
"Arunika Keyra Titania Wulan!" Lantang, teriakan itu mengucapkan namaku dengan lantang, "Ke sini kamu!"
Deg, nama itu. Nama yang membuatku membenci diriku sendiri.
Genggaman tangan Dave semakin menguat, saat aku benar-benar merasa ketakutan sekarang. Hanya Dave yang aku punya saat ini. Dengan sedikit keberanian yang disalurkan Dave, aku menenggok bersamaan dengan Dave. Sekedar membalikkan badan tanpa berminat untuk melangkah ulang. Biarlah mereka yang berjuang dan aku yang meninggalkan.
Aku mendongak, menatap matanya menantang. Biarlah, aku tak lagi peduli, siapa dia siapa aku saat ini, "Siapa yang anda panggil?" Tanyaku.
"Jangan lancang ya kamu!" Teriak ayahku, menunjukku sembari melangkah.
"Siapa yang anda panggil?" Tanya Dave.
"Kamu siapa?" Tanya ibuku kepada Dave.
"Dia Dave, teman Key, tan," sahut Banyu angkat bicara.
"Saya tidak peduli kamu siapa," ucap ayah menunjuk Dave, "Yang saya perlukan saat ini adalah membawa Keyra pulang," lanjutnya, menatap ke arahku.
"Maaf? Bisa anda ulangi Sir?" Tanyaku.
"Pulang Key, ayah tidak pernah mengajarimu menjadi anak durhaka!"
"Maaf tuan, rumah saya di sini," sahutku lantang.
"Key," bujuk ibuku dan Banyu hampir bersamaan.
"Maaf tuan dan nyonya, tapi saya harus membawa Run pulang, kami sudah ditunggu," sela Dave ketika ayah ingin berbicara kembali.
"Key anak saya, dia akan pulang dengan saya!" Teriak ayah bersikeras.
"Maaf tuan, tapi saya harus segera pulang bersama Dave. Mom dan dad serta yang lainnya, menanti kami di rumah," tandasku.
"Key, jangan bercanda, kami orangtuamu," ucap ibu.
"Maaf, mungkin kalian salah orang. Saya Arunika Keyra Arnawama, bukan Arunika Keyra Titania Wulan seperti yang anda kira," sahutku berusaha tenang, "Saya permisi."
Setelah mengatakan itu, aku bersama Dave bersiap melangkah pergi.
"Tunggu Key, sejak kapan margamu berganti?" Tanya Banyu berusaha menghentikanku.
"Sejak," Dave menggantungkan kalimatnya,
"Sejak aku menerima tawaran untuk menjadi tunangannya," lanjutku, sebab aku tahu Dave sedang menahan tawanya saat ini, seperti aku yang tengah menahan senyum meremehkan milikku ketika melihat wajah pias mereka semua.
"Bukankah tadi siang Dave berkata kalian hanya teman?" Tanya Banyu penasaran.
"Perkenalkan, dia adalah Dave Bagasraka Arnawama, putra dari Bapak Panji Putra Arnawama dan Ibu Ferrdanna Gilbert Arnawama, serta memiliki adik bernama Welyan Bagasraka Arnawama, kami teman dalam ikatan pertunangan," kataku memperjelas.
Setelahnya aku dan Dave benar-benar pergi meninggalkan mereka semua. Melaju pulang menuju ke rumah di mana mom dan dad, serta Ara dan Welyan sudah menunggu kami tiba. Meninggalkan mereka, dengan rasa keterkejutan yang luar biasa.
›››› Continue tomorrow.
Me.
-Mood saya bahkan belum kembali.
#writingchallenge30hrdc
#onedayonepost30hrdc
#30hariramadandalamcerita
Cerita bagus, awal yg menegangkan. Pintar membuka cerita. Karena membuka cerita awal itu gampang2 susah. Tapi maaf tiponya boleh dicek lagi y cantik.
BalasHapusMakasih kak untuk pujian dan masukannya :) Tadi belum sempat revisi, Insyallah ini udah aku revisi, semoga lebih baik lagi :)
Hapus