1.5 'Seperti Ini'
-Jangan membenci, cukup sudahi, kamu memang kecewa tapi membenci juga tidak berguna.-
•••♥•••
Udara pagi hari ini menusuk kulitku. Apalagi matahari terbit belum menunjukkan dirinya saat ini. Masih sama seperti kemarin, tergantikan rintik hujan yang tak sebegitu derasnya. Namun, mampu membuat aku basah kuyup jika tak segera meneduh.
Iya. Awalnya, aku ada di tengah gazebo taman mini belakang rumah mom. Duduk sendiri di tengah-tengahnya, menatapi langit hitam bersama rintikan. Di saat seperti ini, aku berharap pelagi bisa muncul tiba-tiba, meskipun sudah jelas kemungkinan itu hanya setipis selaput syaraf. Dan kini aku sudah berada di tempat meneduh, meski masih sama, hanya bisa menghalang rintik yang ada.
Udaranya semakin dingin, dan aku tak membawa penghangat tubuh kecuali sweater hitam kebesaran milik Dave. Aku pun memilih memeluk diriku sendiri sembari menguatkan kencangan sweater itu di tubuhku. Benar-benar sendiri. Benar-benar ringkih. Benar-benar rapuh tak kuat berdiri.
Aku melamunkan nasibku yang sebegitu buruk. Yang seakan tak ada harapan, meski aku berdoa dan meminta kepada Tuhan. Lamunanku tersentak buyar tak kala sebuah sodoran mug berisi coklat panas yang masih mengepulkan asap, berdiri tepat di depan mukaku.
"Terima kasih," ucapku menerima mug tersebut.
"Sama-sama sayang," sahut Mom, duduk di sebelahku, "Sedang melamunkan sesuatu?" Tanya Mom, menyesap coklatnya sendiri.
"Tidak," jawabku menggelengkan kepala, dan Mom pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Kemarin Dave cerita sama Mom. Dia masih seperti anak kecil saja," ucap Mom tiba-tiba sambil tertawa kecil.
Aku pun juga ikut tertawa saat mengingat kelakuan Dave, "Dia bayi besar Mom," ucapku tersenyum geli.
"Dia bilang, kemarin kamu bertemu orang-orang dari masa lalu?" Mom menatapku.
Entah, aku tak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya kuputuskan untuk menganggukkan kepalaku saja.
"Sudah bilang kepada Dad?" Tanya Mom lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, "Belum" sahutku, "Run, tak mau Mom dan Dad berurusan dengan mereka," lanjutku menundukkan kepala.
"Tak apa. Tenang saja, Mom selalu menghargai keputusanmu," sahut Mom tersenyum ringan.
"Mom, apa aku salah tak lagi menganggap mereka lebih dari masa lalu yang harus kulupakan?" Tanyaku setelah menyesap coklat milikku sendiri.
"Tidak," Mom menggelengkan kepalanya, "Setiap manusia punya hak dalam menutuskan. Dan Mom rasa itu wajar jika kamu tak mau kembali kepada mereka. Ya, itu karena kelakuan mereka di masa lalu. Tapi," lanjut Mom memegang tanganku setelah mugnya diletakkan di meja sampingnya, meja terdekat, "Kamu harus memaafkan mereka sayang. Karena manusia tak ada yang sempurna. Setidaknya jangan biarkan dendam menguasimu, itu tak akan mengubah apapun."
"Salah aku membenci mereka?"
"Tidak salah sayang. Hanya saja, Mom tak pernah mengajarimu membenci. Mom hanya memintamu untuk memaafkan. Karena, agama kita atas Sang Pencipta bukan mengajarkan untuk membenci, tapi mengajari kita untuk saling mencintai dan berbagi kasih."
"Run takut Mom," aku menundukkan kepalaku, "Run berlari kepada kalian. Run takut mereka akan mencelakai keluarga Mom karena status Run sebagai keluarga Arnawama," ucapku sedih.
"Mom bahagia ada Run bersama Mom," mom tersenyum menenangkan sembari mengusap lembut telapak tanganku yang ada digenggamannya, "Kamu tahukan, mom sering kesepian. Terlebih saat dad masih masa sibuk-sibuknya dengan pekerjaannya, Dave sibuk dengan projectnya, Welyan sibuk dengan kameranya, Ara sibuk mengontrol kedai milik Dave, dan Stella anak Mom yang terakhir, tinggal di rumah grandpanya untuk melanjutkan study. Jadi, hanya kamu yang bisa melepas rasa kesepian milik Mom."
"Bernicara soal Stella," aku mengubah topik pembicaraan, "Kapan dia akan pulang?"
"Bukan Stella yang akan pulang sayang,"
"Lalu?" Aku mengerutkan kening bingung bertanya-tanya.
"Kita yang akan ke sana, yeay," sahut Mom ceria yang mampu mengundang senyumanku melengkung terbit mengesampingkan segala kesedihan yang kuderita saat ini.
Dipanas siang hari yang terik ini, aku tak memiliki agenda khusus selain kembali merampungkan skripsi milikku yang sudah setengah jalan. Aku bertekad untuk menyelesaikan study ku lebih cepat, karena bagaimanapun ternyata sekolah terlalu lama memang tidak mengenakkan saat aku harunya sudah berkerja.
Secangkir mug berisi coklat dingin berteman dengan sepiring sandwich sebagai teman belajar memang menyenangkan. Ditambah pemandangan kolam ikan dengan dikelilingin bunga-bunga cantik kesayangan Mom yang selalu dirawat setiap harinya. Terlebih jika memandang ke arah sebelah kiri aku mampu melihat riak kolam renang yang sekarang sedang digunakan oleh Ana.
Percakapan pagi hariku dengan Mom di gazebo masih bersarang di kepala mungilku. 'Jangan membenci, cukup sudahi, kamu memang kecewa tapi membenci juga tidak berguna.' Kalimat itu terus bersarang dan mendengung-dengung di kepala dan telingaku. Seolah ada yang membisikkannya setiap saat tanpa jeda.
Ya, aku kecewa atas ayah dan ibuku, aku merasa dibohongi oleh Banyu. Tapi, aku tak boleh membenci mereka, karena benci akan merusak jiwaku nantinya. Ya, aku kecewa tanpa membenci tapi belum tentu aku akan memaafkan kesalahan mereka dengan begitu mudahnya.
Karena Mom, aku masih mau menganggap mereka ada. Karena Mom yang menguatkanku, aku tak pernah berniat balas dendam kepada mereka. Cukup satu kematian seseorang pernah menjadi alasanku begitu membenci mereka. Tapi cukup juga kematian itu menjadi alasanku pergi menjauh tanpa berminat kembali untuk memulai merajut kisah yang tertunda dengan memaafkan jalinan rasa lama.
"Jangan terlalu dipikirkan."
Suara itu tersentak di telingaku begitu dekat. Membuyarkan lamunan demi lamunan yang sedari tadi kujalin buyar, hilang, pergi begitu saja. Aku menoleh tersenyum saat menemukan Dave menundukkan kepalanya tepat di samping telingaku. Memandang ke depan tanpa gentar.
Aku menyentuh jemarinya lembut, "Duduk, jangan berdiri terus," kataku tersenyum. Melihatnya melangkahi bangku yang kududuki untuk ikut duduk bersama membuatku tertawa renyah. Dave adalah seorang lelaki yang terkadang masih memiliki sikap seperti anak kecil.
"Mau permen?" Tanya Dave kepadaku.
"Memangnya kamu bawa?" Tanyaku kepadanya kembali.
"Bawalah," sahutnya bangga merogoh kantung celana mengambil 2 buah permen batang, mengulurkannya kepadaku.
"Terima kasih," ucapku menerima dan bersiap memakannya.
"Eits, tidak bisa Run," kata Dave mencegahku.
Aku menjauhkan permen yang sudah hampir hinggap di bibirku, "Why?"
Dave berdecak kesal, "Itu rasa mangga Run-run cantik," jawabnya kesal.
"Lalu?" Aku mengerutkan dahi.
"Permen mangga itu punya aku," sahutnya gemas, menarik-narik permen yang kugenggam sekuat tenaga, "Kamu yang coklat, mangga itu punya aku," rajuk Dave.
"Eits tidak bisa," aku berdiri menceghnya mengambil permen mangga ini.
"Run," panggilnya merajuk melangkah ke arahku.
"Ini punyaku Dave," aku berlarian menghindari Dave.
"Mangga itu punyaku Run," jawab Dave mengejarku.
Menjulurkan lidah, aku mengejeknya, "Tidak boleh."
"Hey, Run jangan berlari, kemarinkan permenku!"
"Tidak dapat, tidak dapat,"
"Permen manggaku Run!"
"Ini milikku Dave!"
Terciptalah aksi kejar-kejaran di antara kami. Tawa mengema menjadi backsound tersendiri, sehingga menghangatkan keadaan yang tercipta. Jika diperkenankan meminta, aku ingin seperti ini saja. Aku ingin keadaan ini ada untuk selamanya. Aku tak ingin kesedihan merajai di antara kami. Aku ingin kesederhanaan dalam kebahagiaan mencuat setingi angkasa. Aku ingin hidup nirmala bak swastamita. Namun, aku tak ingin singgah sesaat semacam senja. Aku ingin rasa ini ada selamanya.
"Kena kamu Run, hahaha."
Aku ingin tawa itu melantunkan melody merdu setiap saat.
"Tidakkk, itu milikku."
Aku ingin cand selalu hadir di hidup ini.
"Lepaskan Run, itu miliku."
"Milikku Dave!"
"Milikku Run!"
"Aaaa, permennyaa."
"Belum kita makan itu kenapa jatuh ke tanah,"
"Permennya Dave,"
"Dasar kamu Run, hahaha."
Aku ingin setiap saat seperti ini.
Tawa mengema hangat.
Rindu menelusuk sepi di hati.
Dan melihat Mom tersenyum senang di ambang pintu.
Aku ingin seperti ini.
Aku ingin seperti ini.
Aku ingin seperti ini.
Biarkan seperti ini Tuhan, aku hanya meminta.
Biarkan seperti ini.
Aku ingin seperti ini.
Dengan tawa yang terus mengema di antara kami.
Aku pun juga ikut tertawa saat mengingat kelakuan Dave, "Dia bayi besar Mom," ucapku tersenyum geli.
"Dia bilang, kemarin kamu bertemu orang-orang dari masa lalu?" Mom menatapku.
Entah, aku tak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya kuputuskan untuk menganggukkan kepalaku saja.
"Sudah bilang kepada Dad?" Tanya Mom lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, "Belum" sahutku, "Run, tak mau Mom dan Dad berurusan dengan mereka," lanjutku menundukkan kepala.
"Tak apa. Tenang saja, Mom selalu menghargai keputusanmu," sahut Mom tersenyum ringan.
"Mom, apa aku salah tak lagi menganggap mereka lebih dari masa lalu yang harus kulupakan?" Tanyaku setelah menyesap coklat milikku sendiri.
"Tidak," Mom menggelengkan kepalanya, "Setiap manusia punya hak dalam menutuskan. Dan Mom rasa itu wajar jika kamu tak mau kembali kepada mereka. Ya, itu karena kelakuan mereka di masa lalu. Tapi," lanjut Mom memegang tanganku setelah mugnya diletakkan di meja sampingnya, meja terdekat, "Kamu harus memaafkan mereka sayang. Karena manusia tak ada yang sempurna. Setidaknya jangan biarkan dendam menguasimu, itu tak akan mengubah apapun."
"Salah aku membenci mereka?"
"Tidak salah sayang. Hanya saja, Mom tak pernah mengajarimu membenci. Mom hanya memintamu untuk memaafkan. Karena, agama kita atas Sang Pencipta bukan mengajarkan untuk membenci, tapi mengajari kita untuk saling mencintai dan berbagi kasih."
"Run takut Mom," aku menundukkan kepalaku, "Run berlari kepada kalian. Run takut mereka akan mencelakai keluarga Mom karena status Run sebagai keluarga Arnawama," ucapku sedih.
"Mom bahagia ada Run bersama Mom," mom tersenyum menenangkan sembari mengusap lembut telapak tanganku yang ada digenggamannya, "Kamu tahukan, mom sering kesepian. Terlebih saat dad masih masa sibuk-sibuknya dengan pekerjaannya, Dave sibuk dengan projectnya, Welyan sibuk dengan kameranya, Ara sibuk mengontrol kedai milik Dave, dan Stella anak Mom yang terakhir, tinggal di rumah grandpanya untuk melanjutkan study. Jadi, hanya kamu yang bisa melepas rasa kesepian milik Mom."
"Bernicara soal Stella," aku mengubah topik pembicaraan, "Kapan dia akan pulang?"
"Bukan Stella yang akan pulang sayang,"
"Lalu?" Aku mengerutkan kening bingung bertanya-tanya.
"Kita yang akan ke sana, yeay," sahut Mom ceria yang mampu mengundang senyumanku melengkung terbit mengesampingkan segala kesedihan yang kuderita saat ini.
•••♥•••
Dipanas siang hari yang terik ini, aku tak memiliki agenda khusus selain kembali merampungkan skripsi milikku yang sudah setengah jalan. Aku bertekad untuk menyelesaikan study ku lebih cepat, karena bagaimanapun ternyata sekolah terlalu lama memang tidak mengenakkan saat aku harunya sudah berkerja.
Secangkir mug berisi coklat dingin berteman dengan sepiring sandwich sebagai teman belajar memang menyenangkan. Ditambah pemandangan kolam ikan dengan dikelilingin bunga-bunga cantik kesayangan Mom yang selalu dirawat setiap harinya. Terlebih jika memandang ke arah sebelah kiri aku mampu melihat riak kolam renang yang sekarang sedang digunakan oleh Ana.
Percakapan pagi hariku dengan Mom di gazebo masih bersarang di kepala mungilku. 'Jangan membenci, cukup sudahi, kamu memang kecewa tapi membenci juga tidak berguna.' Kalimat itu terus bersarang dan mendengung-dengung di kepala dan telingaku. Seolah ada yang membisikkannya setiap saat tanpa jeda.
Ya, aku kecewa atas ayah dan ibuku, aku merasa dibohongi oleh Banyu. Tapi, aku tak boleh membenci mereka, karena benci akan merusak jiwaku nantinya. Ya, aku kecewa tanpa membenci tapi belum tentu aku akan memaafkan kesalahan mereka dengan begitu mudahnya.
Karena Mom, aku masih mau menganggap mereka ada. Karena Mom yang menguatkanku, aku tak pernah berniat balas dendam kepada mereka. Cukup satu kematian seseorang pernah menjadi alasanku begitu membenci mereka. Tapi cukup juga kematian itu menjadi alasanku pergi menjauh tanpa berminat kembali untuk memulai merajut kisah yang tertunda dengan memaafkan jalinan rasa lama.
"Jangan terlalu dipikirkan."
Suara itu tersentak di telingaku begitu dekat. Membuyarkan lamunan demi lamunan yang sedari tadi kujalin buyar, hilang, pergi begitu saja. Aku menoleh tersenyum saat menemukan Dave menundukkan kepalanya tepat di samping telingaku. Memandang ke depan tanpa gentar.
Aku menyentuh jemarinya lembut, "Duduk, jangan berdiri terus," kataku tersenyum. Melihatnya melangkahi bangku yang kududuki untuk ikut duduk bersama membuatku tertawa renyah. Dave adalah seorang lelaki yang terkadang masih memiliki sikap seperti anak kecil.
"Mau permen?" Tanya Dave kepadaku.
"Memangnya kamu bawa?" Tanyaku kepadanya kembali.
"Bawalah," sahutnya bangga merogoh kantung celana mengambil 2 buah permen batang, mengulurkannya kepadaku.
"Terima kasih," ucapku menerima dan bersiap memakannya.
"Eits, tidak bisa Run," kata Dave mencegahku.
Aku menjauhkan permen yang sudah hampir hinggap di bibirku, "Why?"
Dave berdecak kesal, "Itu rasa mangga Run-run cantik," jawabnya kesal.
"Lalu?" Aku mengerutkan dahi.
"Permen mangga itu punya aku," sahutnya gemas, menarik-narik permen yang kugenggam sekuat tenaga, "Kamu yang coklat, mangga itu punya aku," rajuk Dave.
"Eits tidak bisa," aku berdiri menceghnya mengambil permen mangga ini.
"Run," panggilnya merajuk melangkah ke arahku.
"Ini punyaku Dave," aku berlarian menghindari Dave.
"Mangga itu punyaku Run," jawab Dave mengejarku.
Menjulurkan lidah, aku mengejeknya, "Tidak boleh."
"Hey, Run jangan berlari, kemarinkan permenku!"
"Tidak dapat, tidak dapat,"
"Permen manggaku Run!"
"Ini milikku Dave!"
Terciptalah aksi kejar-kejaran di antara kami. Tawa mengema menjadi backsound tersendiri, sehingga menghangatkan keadaan yang tercipta. Jika diperkenankan meminta, aku ingin seperti ini saja. Aku ingin keadaan ini ada untuk selamanya. Aku tak ingin kesedihan merajai di antara kami. Aku ingin kesederhanaan dalam kebahagiaan mencuat setingi angkasa. Aku ingin hidup nirmala bak swastamita. Namun, aku tak ingin singgah sesaat semacam senja. Aku ingin rasa ini ada selamanya.
"Kena kamu Run, hahaha."
Aku ingin tawa itu melantunkan melody merdu setiap saat.
"Tidakkk, itu milikku."
Aku ingin cand selalu hadir di hidup ini.
"Lepaskan Run, itu miliku."
"Milikku Dave!"
"Milikku Run!"
"Aaaa, permennyaa."
"Belum kita makan itu kenapa jatuh ke tanah,"
"Permennya Dave,"
"Dasar kamu Run, hahaha."
Aku ingin setiap saat seperti ini.
Tawa mengema hangat.
Rindu menelusuk sepi di hati.
Dan melihat Mom tersenyum senang di ambang pintu.
Aku ingin seperti ini.
Aku ingin seperti ini.
Aku ingin seperti ini.
Biarkan seperti ini Tuhan, aku hanya meminta.
Biarkan seperti ini.
Aku ingin seperti ini.
Dengan tawa yang terus mengema di antara kami.
›››› Next.
Me.
-Terlalu sederhana kadang memang sesusah itu.
#bianglalahijrah
#onedayonepost30hrdc
#writingchallenge30hrdc
#30hariramadandalamcerita
Komentar
Posting Komentar