Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

2.0

"Hallo," ucapku pada sambungan pertama sebuah panggilan yang kuterima. "Kak, ini aku Stella!" "Nomer baru?" Tanyaku mengulum senyum saat mendengar suara riangnya. "Bukan kok, ini nomer grandpa, aku meminjamnya tadi, hehehe." "Aku kira baru," sahutku, "Oh ya ada apa menelfonku Stel?" "Oh iya, aku hampir lupa," kata Stella diikuti oleh suara sebuah tepukan yang aku yakini sebagai tepukan tanganya di dahinya sendiri, "Sangking rindunya ke kakak sampai lupakan, hehehe," kekeh Stella, yang kutanggapi dengan gulungan senyum kecil yang kuyakini tak akn dilihatnya, karena hey, ini panggilan suara, bukan panggilan video, atau skype dan semacamnya. "Stell mau kasih kejutan ke Mom." "Lalu?" "Tahan Mom supaya gak jadi pergi ke sini ya kak," "Kapan kamu pulang memangnya?" Tanyaku memastikan. "Secepatnya kok. Pokoknya tahan saja, hehehe." "Iy...

1.5 'Seperti Ini'

- Jangan membenci, cukup sudahi, kamu memang kecewa tapi membenci juga tidak berguna.- •••♥••• Udara pagi hari ini menusuk kulitku. Apalagi matahari terbit belum menunjukkan dirinya saat ini. Masih sama seperti kemarin, tergantikan rintik hujan yang tak sebegitu derasnya. Namun, mampu membuat aku basah kuyup jika tak segera meneduh. Iya. Awalnya, aku ada di tengah gazebo taman mini belakang rumah mom. Duduk sendiri di tengah-tengahnya, menatapi langit hitam bersama rintikan. Di saat seperti ini, aku berharap pelagi bisa muncul tiba-tiba, meskipun sudah jelas kemungkinan itu hanya setipis selaput syaraf. Dan kini aku sudah berada di tempat meneduh, meski masih sama, hanya bisa menghalang rintik yang ada. Udaranya semakin dingin, dan aku tak membawa penghangat tubuh kecuali sweater hitam kebesaran milik Dave. Aku pun memilih memeluk diriku sendiri sembari menguatkan kencangan sweater itu di tubuhku. Benar-benar sendiri. Benar-benar ringkih. Benar-benar rapuh tak kuat b...

1.0 'Bertemu'

-Saya tak peduli anda siapa. Yang saya pedulikan adalah kehidupan saya sekarang.- •••♥••• Dalam gelapnya malam dan cahaya kamar yang hanya remang-remang, aku duduk memeluk lutut di pojok ranjang. Temenung aku dengan pandangan kosong ke arah lantai marmer yang dingin. Meringkuk takut, padahal tak ada apa-apa di sini. Kamarku tak lagi terlihat seperti kamar, ketika semua barang-barang sudah berhamburan ke penjuru ruangan. Beberapa buku di atas meja belajar ku sudah berhamburan entah ke mana, alat kosmetiku tak lagi berbentuk, dan puluhan foto bersama figura yang semua kuletakkan secara rapi telah pecah rusak terkoyak, yang lebih menarik adalah kaca riasku sudah pecah berkeping-keping. Perlahan tapi pasti memori lama itu menyeruak ke dalam fikiranku, menghantam kepala bertubi-tubi. Memaksa otak mengali kenangan yang ingin sekali kulupakan. Seandainya Tuhan mengizinkanku mengalami amnesia, aku akan dengan senang hati menerima. Aku berkali-kali kehilangan kendali diri. Berkali-ka...

0.5 'Arunika Keyra Arnawama'

-Kamu tak lebih dari jejak. Hanya sekeping kenangan yang tak lagi ku ingat saat hujan datang.- •••♥••• Aku kini tengah duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir etalase Garden Cafe, dengan posisi yang menghadap ke taman mini di luar sana secara langsung. Berteman segelas caffeine, seonggok benda berlayar datar yang tengah menampilkan tugas skripsiku dan aerophone yang menggantung di telinga kiriku. Sungguh aku menyukai hari ini, selain karena jam mata kuliahku yang tengah kosong, tapi karena aku nanti malam bisa menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan bersama seseorang. Entah aku yang terlalu fokus dengan tugasku atau apa, sampai aku sendiri tidak menyadari bahwa di luar sana rintik hujan tengah menyapa. Membuat para pejalan kaki harus meneduh ke tempat yang ada di sekitarnya. Hingga aku tersadarkan dengan sapaan hangat yang tak asing di telingaku. "Hai," sapaan itu membuatku memalingkan muka untuk melihat siapa yang berucap, namun rupanya aku har...

Gerbang

»»» GERBANG ««« Selamat pagi dan selamat Bulan Ramadan.  Ini adalah gerbang masuk, di mana tempatnya aku akan membuat blog cerita tentang kisah yang tak terlalu rumit. Hanya untuk mengisi hari-hari, sebagaimana mestinya. Bahkan kala kamu menjelma lelah, kamu boleh membacanya. Tapi jangan, jika kamu menjelma karena terpaksa, sebab aku tak menyukainya. Arunika ini untuk kita. Untuk kamu, yang sering tak menghargainya. Padahal, Arunika sama saja dengan Swastamita. Yang selalu kamu pandang dengan penuh pesona. Tenggok di atmamu, secantik apa dia nanti. Jangan memalingkan muka dan jangan terlalu membenci, takutnya nanti kamu tak bisa berbagi. Terlalu ringkih saat dulu kamu begitu nirmala, bersih tanpa cacat di sela-sela. Selamat membuat bayang, antar kisah yang kadang memilukan. Gerbang ini akan ada lagi nantinya, entah kapan. Tapi, aku pasti akan  mengakhiri, setelah kamu mengerti, seberharga apa ia nanti. Catat di waktumu, aku datang untuk berbagi...