0.5 'Arunika Keyra Arnawama'
-Kamu tak lebih dari jejak. Hanya sekeping kenangan yang tak lagi ku ingat saat hujan datang.-
•••♥•••
Aku kini tengah duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir etalase Garden Cafe, dengan posisi yang menghadap ke taman mini di luar sana secara langsung. Berteman segelas caffeine, seonggok benda berlayar datar yang tengah menampilkan tugas skripsiku dan aerophone yang menggantung di telinga kiriku. Sungguh aku menyukai hari ini, selain karena jam mata kuliahku yang tengah kosong, tapi karena aku nanti malam bisa menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan bersama seseorang.
Entah aku yang terlalu fokus dengan tugasku atau apa, sampai aku sendiri tidak menyadari bahwa di luar sana rintik hujan tengah menyapa. Membuat para pejalan kaki harus meneduh ke tempat yang ada di sekitarnya. Hingga aku tersadarkan dengan sapaan hangat yang tak asing di telingaku.
"Hai," sapaan itu membuatku memalingkan muka untuk melihat siapa yang berucap, namun rupanya aku harus terkesiap oleh kedatangan seseorang yang tak pernah aku inginkan hadir kembali.
Sesaat aku terpaku oleh wajahnya yang menatapku lembut, serta sentuhan titik-titik air hujan yang membuatnya basah. Namun, setelahnya aku beranjak membereskan barang-barangku, bersiap melangkah pergi meninggalkannya di sini dengan sapaan yang belum ku jawab sama sekali.
"Mau kemana?" Tanyanya saat menyadari aku membereskan laptopku. Namun, aku tetap pada kebisuanku, membiarkan pertanyaan itu menguap berlari bersama udara.
"Kenapa diam?" Tanyanya lagi, "Mau pergi?"
Dan aku masih dikebisuanku.
"Key," bujuknya masih enggan berhenti, tak mengrti jika aku terganggu, "Berhenti Kay," lanjutnya menahan lengganku dengan menggenggamnya. Genggaman itu masih sama, hangat, dan melahirkan aliran listrik yang telah lama aku lupakan bagaimana rasanya. Dan itu, berhasil mengentikan kegiatanku.
"Aku mohon Key, duduk," pintanya, "Kita perlu bicara."
"Apa?" Akhirnya, aku pun membuka suara, "Apa yang perlu dibicarakan? Semua sudah selesai. Sekian dan terima kasih telah meninggalkan luka di atas rasa."
"Ada Key, ini tentang kita."
"Tentang kita?" Tanyaku memastikan, "Oh, biar ku koreksi, ini bukan tentang kita. Tapi tentang kamu dan dia. Sudah jangan mengikut sertakan diriku."
"Tidak ada dia Key! Aku bersumpah!" Teriaknya frustasi.
"Kamu bercanda Banyu?" Tanyaku tersenyum sinis. Ah, nama itu akhirnya terucap dari mulutku. Setelah sekian jam aku hanya menggungkapkannya sebagai dia.
"Apa aku terlihat bercanda?" Tanya Banyu kembali, "Tidak Key, ini tentang kita. Only us!"
"Aku tak mengerti Banyu. Kita telah berakhir. We are done! Kalaupun kita harus bicara tentang kisah lalu yang katamu hanya aku dan kamu. It's funny. Because I know, there is already our story from the beginning. Semengelak apapun kamu."
"Ada!" Kekeuh Banyu, "Ada yang hanya terdiri dari kita."
"Aku tak percaya," sahutku masih berusaha tak peduli, "Lepaskan. Waktuku terbuang hanya untuk berbicara hal tak penting denganmu."
"No! This is important. Because we can start our story again."
Aku mendegus kencang, "Aku tak pernah suka sebuah jejak tampil di depan. Karena sejatinya jejak tetap berdiri di belakang dan tertinggal."
"Aku bukan jejak Key! Aku bukan juga kenangan! Aku mimpi yang harus kamu wujudkan!"
"Jangan bodoh Banyu! Kamu tak sepenting itu."
"Tatap mataku Key! Tatap mataku jika seperti itu!"
Aku menatapnya, seperti yang Banyu inginkan, "Kamu tak lebih dari jejak. Hanya sekeping kenangan yang tak lagi ku ingat saat hujan datang."
"Pelayan," ucapku saat ku lihat Banyu luruh tertunduk lesu.
"Iya, ada yang perlu saya bantu?" Tanya pelayan yang bernama Ara itu takut-takut, padahal dia telah mengenalku sejak lama, sejak aku pindah ke sini untuk menuntut ilmu, dan Ara adalah satu dari sekian orang yang melihat pertengkaranku dengan Banyu tadi.
"Ara, apa Dave sudah selesai dengan urusannya?" Tanyaku.
"Oh, sudah Run. Dave sedang menuju ke arahmu, tenggok saja arah jam 2."
Aku pun mengikuti instruksinya, ya Dave sedang berjalan dengan gagahnya. Tak ku sangka, ternyata Banyu juga ikut menenggok melihat Dave.
"Oh iya Ar, jangan lupa janji kita ya," ucapku saat Dave sudah berdiri tegak di sampingku. Ara pun hanya mengganggukkan kepalanya.
"Ar, shift mu sudah selesai. Welyan akan menjemputmu sebentar lagi," ucap Dave, yang membuat Ara kembali mengganggukkan kepalanya dan melenggang pergi.
Saat itu pula, aku menyadari bahwa Banyu seperti bertanya-tanya, "Dave kenalian dia Banyu."
"Dave," ucap Dave mengangguk singkat.
"Banyu," balas Banyu, "Dia siapa Key?" Tanya Banyu kepada ku.
"Dia Dave," jawabku yang sesungguhnya sudah dia tahu.
"Run, ayo pulang, kita masih ada janji," kata Dave kepadaku.
Aku dan Dave pun beranjak untuk pergi, namun Banyu menghalangi langkah kaki kami.
"Who is you Dave?" Tanya Banyu.
"I'm Dave and I know who is you," jawab Dave santai.
" No, no. Maksudku, siapa kamu untuk Key?"
"Key?" Tanya Dave mengerutkan dahinya, "Oh maksudmu Run?" Banyu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Aku adalah, -----"
›››› Continue tomorrow.
Me.
-Bersanding dengan badmood yang merusak suasana.
#bianglalahijrah
#onedayonepost30hrdc
#writingchallenge30hrdc
#30hariramadandalamcerita
ditunggu lanjutannya
BalasHapusStay tune ya kak :)
HapusWah seru. Penasaran nih kelanjutannya gmna hehe
BalasHapusStay tune ya kak :)
HapusLanjutkan jadi novel
BalasHapusSiap kak :)
Hapus